Banda : Surga di Ujung Dunia
hari sabtu (24-02-2007) sampai dengan selasa (27-02-2007) lalu aku berkesempatan wisata ke pulau banda yang sangat eksotis.
sesuai rencana, hari sabtu jam 11.00 aku sudah siap2 untuk berangkat dengan naik kapal ciremai. sayangnya, ternyata sang kapal baru merapat di pelabuhan pada pukul 14.00 dan kemudian baru berangkat pukul 16.00 WIT. jadilah saat2 menunggu keberangkatan ini menjadi saat2 yang membosankan.
untungnya, semangat bertualang kembali timbul ketika melihat kapal ciremai yang besar merapat ke dermaga. ukuran kapal ini sungguh di luar bayanganku. besaaarrrr ... jadi lah petualangan di kapal selama 7 jam menjadi titik awal perjalanan. karaoke, berjoged, main playstation sampai menikmati pemandangan pulau-pulau diseputar laut banda sambil menikmati terpaan angin menjadi hiburan selama 7 jam perjalanan.
sayangnya, karena keterlambatan kapal, baru pukul 00.00 kapal merapat di pulau banda neira. akibatnya pulau gunung api yang berada disebelah banda neira hanya tampak samar2. untungnya gairah menikmati banda berhasil mengalahkan kekecewaan karena tak bisa menikmati si gunung api yang terkenal itu. bahkan, begitu antusiasnya, rasa capek akibat perjalanan hampir tak berasa sampai-sampai acara malam itu masih dilanjutnya dengan obrolan seru sampai dengan jam 03.00 dini hari sebelum akhirnya terlelap.
Pagi hari di banda neira benar2 tampil beda. sinar matahari yang cerah tampak berkilauan menerpa ... gunung api yang ada di depan mata. ternyata hotel yang kutempati berada tepat di bibir pantai yang menghadap pulau gunung api. dan jaraknya hanya beberapa ratus meter. dekat sekali. luar biasa. rasanya tak puas puas memandangi keelokan si gunung api ini.
perjalanan hari pertama di pulau banda pun segera disusun ulang. langkah pertama, menghabiskan semua situs yang ada di daratan banda neira karena saat ini aku menginap di pulau banda neira. pulau kecil yang menjadi pusat kehidupan di kepulauan banda.
tanpa disangka, banda neira ternyata penuh sesak dengan kehidupan masa lalu. memasuki kehidupan neira bagaikan hidup kembali di jaman kemerdekaan. bahkan, belum pernah aku merasakan ada tempat dimana masa lalu seakan berdesakan ingin muncul kembali.
rumah2, benteng, perabot, jalan, budaya dan kehidupan dari masa lalu tetap terjaga dengan baik. kunjungan ke rumah2 pengasingan bung hatta, bung syahrir, Dr. Cipto dll membawa seakan membawa diriku ke masa lalu. bangku2 sekolah dimana bung hatta mengajar, lemari tempat Dr. Cipto menyimpan pakaiannya atau ruang tidur dimana bung syahrir menghabiskan malam2nya tetap tertata apik. bahkan aku sempat menyetel gramophone kuno tempat menyetel piringan hitam yang harus diputas secara manual. benar2 membuat merinding mendengar lagu dari masa lalu dengan cara dan suasana masa lalu.
setelah puas menghabiskan daratan neira, perjalanan laut pun di mulai. sungguh beruntung, Pak Des Alwi sang sesepuh pulau banda bersedia menemani kami. bahwa beliau menyopiri sendiri perahu boat yang kami sewa. pak Des, demikian beliau biasa dipanggil merupakan sosok paling berpengaruh di kepulauan ini. beliau merupakan anak angkat bung hatta yang kemudian berjuang bersama beliau. beberapa buku sejarah dan film dokumenter telah dihasilkan beliau. tidak sedikit kepala negara yang mengunjungi beliau di pulau banda. sungguh pengalaman yang luar biasa bisa didampingi oleh orang sekaliber pak Des.
kali ini pak Des membawa kami ke perkebunan pala yang usianya sudah ratusan tahun peninggalan jaman belanda yang terletak di pulau Banda Besar. luar biasa, satu pulau penuh dengan tanaman pala besar2. meski usia beliau sudah sangat tua untuk ukuran manusia, beliau tampak masih semangat menerangkan berbagai cerita terkait dengan pala dan sejarahnya. bahkan secara tak terduga, beliau mengajak kami keliling pulau naik mobil 4-WD yang dikendarai sendiri oleh beliau.
perjalanan ini menjadi benar2 perjalanan yang tak kan terlupakan ketika pak Des tiba2 membelokkan mobilnya ke tengah2 hutan pala. jadi lah perjalanan ini menjadi ajang off-road. ranting2 pohon lengkap dengan buah pala-nya seakan tak mampu menghalangi laju mobil kami. hanya batang2 pohon besar saja yang mampu membelokkan arah mobil. ditengah hutan, tiba2 saja mobil terhenti karena ada sebuah pohon besar melintang di depan mobil. terpaksa jalur alternatif kembali diambil. akhirnya, setelah terguncang-guncang melewati jalur pegunungan ditengah hutan pala selama 30 menit, kami kembali ke peradaban. disana telah menunggu kelapa muda dan durian yang dipetik langsung ditempat. ternyata, hutan itu selain penuh dengan pala juga berhiaskan pohon kelapa dan pohon durian. bahkan pak Des mengatakan bahwa nasib kami tadi kurang beruntung karena tidak bisa bertemua dengan babi hutan yang banyak tersebar di hutan pala itu. tak terbayangkan apa yang akan terjadi jika kami bertemu si babi itu. karena pak Des mengindikasikan untuk mengajak perburuan di hari itu. sungguh pengalaman yang luar biasa dengan orang yang luar biasa.
selepas dari hutan pala, pak Des mengajak kami mengelilingi pulau gunung api dengan speedboat-nya. disana masih tampak dataran hitam memanjang dari puncak ke laut yang merupakan bekas aliran lahar saat gunung itu meletus tahun 1987. diujung lahar itu, pak Des menunjukkan bahwa terumbu karang baru hidup dengan suburnya dan memiliki keindahan yang luar biasa. target wisata baru pun segera disusun di kepala. sayangnya, acara menyelam yang direncanakan gagal dilaksanakan karena instruktur selam sedang pergi ke surabaya. alhasil, snorkling pun menjadi pilihan yang tak kalah menariknya.
hari berikutnya, acara jalan2 kembali dilanjutkan ke bagian lain pulau banda besar dan dilanjutkan dengan mengelilingi pulau gunung api yang seakan menantang untung dijelajahi. sesuai rencana, hari itu akan di akhiri dengan acara memancing dan snorkling di pulau syahrir. memancing di kepulauan banda artinya bersiap-siap menarik ikan yang ukuran lebih besar dari kita. sedangkan snorkling, terumbu karang di banda terkenal sebagai salah satu yang terindah di dunia. jadi lah perjalanan sore itu menjadi perjalanan yang ditunggu-tunggu.
sayangnya, ditengah perjalanan kami dihadang oleh hujan dan angin kencang disertai ombak besar. alhasil kami hanya bisa berteduh sambil makan mie rebus di pulau syahrir. aku sendiri tetap tidak mau menyia-nyiakan kesempatan bermain air. alhasil aku tetap asik bermain ombak di pinggir pantai. sungguh mengasikkan bermain ombak besar di tengah pulau terpencil. karena waktu sudah semakin sore, ketika ombak sudah mengecil dan cuaca kembali bersahabat, kami memutuskan untuk kembali ke banda neira. ah, kekecewaan kembali menggunung di dada karena belum sempat menikmati keindahan terumbu karang banda yang terkenal.
pagi harinya, kabar gembira kembali tiba ditelingaku. kapal ciremai yang kutumpangi dipastikan akan terlambat datang. dari rencananya jam 8 pagi diperkirakan akan datang jam 1 siang. rencana darurat pun disiapkan. akhirnya, dengan menyewa perahu boat kami pun segera menuju pulau gunung api. tujuan kali ini adalah sebuah daerah yang disebut dengan lava. daerah yang dulu hancur akibat terjangan lava. namun kini kehidupan baru telah muncul kembali. sebuah kehidupanyang sangat indah. alhasil, aku sempat juga menikmati keindahan terumbu karang banda yang terkenal. karang meja yang anggun, karang jari yang mempesona serta karang mawar yang memikat hati tumbuh subur dengan ukuran yang luar biasa beserta berbagai jenis ikan laut yang indah.
ah ... akhirnya aku bisa pulang dengan perasaan luar biasa ... rasanya seperti berada di surga di ujung dunia

Recent Comments