« negeri di balik awan | Main | Banda : Surga di Ujung Dunia »

February 07, 2007

banjir oh banjir

biasanya, hari jumat merupakan hari yang penuh kesenangan. setelah seminggu bekerja keras yang menguras tenaga, maka di hari jumat biasanya kita mendapatkan tenaga ekstra karena antusiasme menyambut libur.

namun jumat ini suasana keceriaan tak tampak lagi. tak seperti biasanya, awan gelap menggelantung menutupi langit. bukan hanya membuat ibukota Jakarta menjadi kelabu, namun seluruh pelosok negeri menjadi terperangah. meskipun jumat ini bukan tanggal 13, namun kengeriannya pun tetap tak terbantahkan. rumah-rumah tinggal tak tampak lagi tergantikan danau raksasa. Jakarta tenggelam. beberapa rumah masih tampak atap-atapnya yang memelas meminta perhatian. di beberapa daerah, kedalaman danau ini bahkan bisa mencapai 6 meter lebih. sebuah bencana yang sangat tragis. bencana yang mengorbankan nyawa dan harta yang tak ternilai.

sayangnya, pejabat-pejabat negeri seperti mencuci tangannya. sang gubernur dengan mimik tanpa dosa mengatakan bahwa ini fenomena alam 5 tahunan, sedangkan sang menko kesra sambil tersenyum mengatakan bahwa bencana ini terlalu dilebih-lebihkan oleh media massa. pejabat-pejabat lainnya pun sibuk melakukan 'piknik' kedaerah bencana dengan tampang polos dan sedikit akting amatiran. hanya sang presiden yang terlihat sangat tertekan dan bersedih. wajahnya sampai tertekuk menampakkan kepedihan mendalam. kadang sampai terpikir, untung dia yang saat ini memimpin negeri penuh bencana ini. seandainya bencana ini tiba sebelum masanya, tak kan terbayangkan apa jadinya negeri ini. yach, Tuhan memang tak akan menimpakan cobaan yang takkan sanggup dipikul oleh umatnya. hebatnya lagi, sang presiden tetap berhasil menjaga ekonomi negeri yang sangat rentan dengan baik. inflasi terjaga, pertumbuhan ekonomi sesuai target. nilai ekspor mencapai rekor, harga saham pun menuai rekor demi rekor. hmmm, masih bisa tersenyum rasanya meski sedikit miris dengan bencana ini.

tapi, bencana tetaplah bencana. tetap harus ditanggulangi sebaik mungkin. sayangnya, para petinggi lebih gampang menyalahkan berkurangnya hutan di bogor sebagai penyebabnya. memang, hilangnya daerah resapan sebagai salah satu faktor, tapi bukan segalanya. fakta menunjukkan bahwa daerah dengan hutan lengkap pun masih bisa terlanda banjir bandang. hal ini jelas karena kemampuan tanah untuk meresap air sangat terbatas. fungsi hutan lebih pada menahan agar humus subur yang ada dilapisan tanah atas tidak tergerus dan hilang oleh air.

memang lebih gampang menyalahkan daerah lain daripada mengakui kelemahan diri sendiri. memang berkurangnya daerah resapan menjadi salah satu faktor penyebab, tapi bukan satu-satunya.

faktor lain yg jauh lebih penting adalah tidak memadai saluran air di jakarta. sungai-sungai bukan hanya mendangkal, namun juga menyempit. dalam sesuai wawancara di TV swasta, seorang warga bahkan bercerita tentang sungai yang tadinya selebar 16 meter telah berkurang menjadi 4 meter. belum lagi pendangkalannya. hal serupa juga terjadi di selokan, parit dan gorong2 di seantero jakarta. gundulnya hutan di daerah bogor menjadi salah satu penyebabnya, karena air jadi banyak menyeret tanah kedalam sungai dan parit. penyebab lainnya jelas perilaku warga yang ceroboh. membuang sampah di sungai atau tinggal di bantaran sungai jelas membuat sungai dan parit tinggal menunggu waktu saja menjadi dataran.

dalam kondisi sungai dan saluran air yang normal seperti dulu saja jakarta masih bisa banjir. apalagi jaman sekarang dimana curah hujan jadi lebih tinggi. jakarta jadi danau tentu bukan hal yang mengagetkan lagi. proyek banjir kanal timur dan barat pun rasanya tidak akan mampu menampung debit air jika seluruh sungai dan saluran air di jakarta tidak dilebarkan dan didalamkan lagi.

ah, seandainya sang gubernur memiliki semangar mengatur air seperti semangatnya membuat busway, pasti masalah ini sudah selesai sejak dulu kala.

ah ... harapan tinggal harapan ... banjir kan tetap lah banjir ..

Comments

Post a comment

Post a comment

Name:

You are currently signed in as .